Wednesday, January 9, 2013

Gadis Kecil


                Di sebuah pondok kecil di dekat pantai, gadis kecil nan mungil tengah duduk bersimpuh di sebelah ibundanya yang sedang menjahit baju berwarna biru milik gadis kecil itu. Baju yang paling dia sayangi robek tersangkut  perahu nelayan saat ia sedang bermain-main dengan teman-temannya.

“Ibu..kapankah baju itu selesai dijahit?”,  kata gadis itu tak sabar menunggu ibundanya yang sedang menjahit baju. “Aku ingin memakainya lagi, Ibu”.
“Sebentar nak, robeknya lumayan besar jadi kamu harus sabar menunggu jika ingin memakainya lagi”. Jawab ibu dengan nada menasehati.
“Baiklah bu”. Jawab gadis itu dengan sedikit kecewa.

                Karna lama menunggu ibunya menjahit, gadis itu masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Ia mengambil secarik kertas putih yang masih bersih tak ada coretan apapun. Meskipun ia tidak sekolah dan belum begitu pandai menulis dengan rapi, tetapi ia sudah hafal bahkan sudah bisa membaca kalimat. Itu berkat ibundanya yang setiap hari mengajarinya menulis dan membaca.
                Dalam tulisannya itu ia bercerita tentang baju biru yang tengah dijahit ibu. Kata demi kata ia rangkai menjadi sebuah cerita yang tidak begitu panjang tetapi hampir penuh satu halaman sebab ukuran hurufnya besar. Selesai menulis cerita tersebut, kemudian ia gulung kertas itu dan diikat dengan pita agar tidak terbuka.
                Dengan membawa kertas yang telah digulung tadi, ia berlari menuju pantai. Ia berdiri tepat di pinggir pantai dengan memandangi matahari yang hampir menghilangkan sinarnya. Lalu kertas yang berada di tangan kanannya ia hanyutkan ke pantai. Kertas itu kini hanyut terbawa ombak menuju tengah lautan. Entah mengapa setiap matahari akan tenggelam, ia selalu menenggelamkan kertas putih yang diikat pita ke pantai.
                Saat kembali kerumah, ia bertanya kepada ibunya tentang ayahnya yang sudah  5 bulan ini tidak pulang. Dengan menyembunyikan air matanya Ibu selalu menjawab kepada gadis itu bahwa ayah sedang berlayar di pulau yang jauh untuk mencari uang demi menyekolahkan kamu.
                                                ########################

                Suara ayam berkokok membangunkan gadis itu, tanpa mandi dulu ia langsung turun dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu depan. Ia melongok ke depan. Menengok ke kanan dan ke kiri rumah seperti berharap ada seseorang yang datang. Ya..memang ia selalu berharap ayahnya membaca surat yang dihanyutkan ke pantai sehingga ia pulang. Hal itu dilakukannya setiap pagi, setiap hari setelah bangun dari tidur. Jika tidak ada yang datang, lalu ia masuk dan berangkat mandi. Ibunya pun tak menyadari bahwa gadis itu melakukannya setiap pagi.
                Setiap hari gadis kecil itu membantu ibunya memasak dan juga membungkus kue basah yang akan dijual ibu. Ibunya bekerja sebagai penjual kue basah keliling. Gadis itu sering mengikuti ibunya berkeliling pantai dan perkampungan sekedar untuk berjalan-jalan dan menemani ibunya berjualan.
                “Ibu, kenapa aku tidak sekolah seperti mereka?”, tanya gadis kecil itu ketika melihat anak-anak seumurannya berangkat ke sekolah di sebuah perkampungan.
                “Karena ibu belum memiliki biaya untuk menyekolahkan engkau anakku. Ibu janji dari hasil penjualan kue-kue ibu selama ini akan ibu pakai untuk menyekolahkan engkau”. Jawab ibu dengan mata berkaca-kaca.
                “Semoga hari ini kita mendapat uang yang banyak ya bu. Dan juga semoga ayah cepat pulang mendapatkan banyak uang juga. Aku kangen banget sama ayah bu”. Ucap gadis itu dengan wajah sumringah. Lalu ia meraih tangan ibu dan melanjutkan berjualan keliling kampung. Namun air mata ibu jatuh saat mendengar gadis itu berdoa untuk kepulangan ayahnya. Entah apa yang disembunyikan ibu dari gadis itu.

                                ################################

                Setelah beberapa bulan berjualan, ibunya mendapatkan banyak langganan. Bahkan banyak warung makan yang mau membantu untuk menjual kembali kue-kue yang dibuatnya. Penghasilan ibu semakin meningkat sehingga dari hasil itu akhirnya ibu dapat menyekolahkan anaknya.
                Setahun berlalu, gadis itu dapat bersekolah layaknya anak-anak lain di kampungnya. Ia sangat menikmati sekolahnya. Tepat di hari ini sekolah mengadakan acara peringatan “Hari Ayah”. Acara tersebut dihadiri oleh ayah dari masing-masing murid di SD itu. Tidak seperti murid-murid lain yang datang bersama ayahnya, gadis itu datang bersama ibundanya. Acara berlangsung meriah, ada senam pagi dan juga permainan yang dilakukan kolaborasi antara ayah dan anak.
                 Namun, gadis kecil itu tampak murung dan sedih. Ia sedih karena iri melihat teman-temannya yang mengikuti acara bersama ayahnya. Sedangkan hanya dia saja yang pada saat itu bersama ibunya. Dari awal acara hingga akhir, ia tidak bersemangat ketika di ajak senam dan permainan. Ibu sudah mencoba menghiburnya, tetapi ia tetap saja sedih.
                Sampai di rumah, ia berlari menuju kamarnya. Ibu pun mengikutinya. Perlahan ibu membuka pintu kamarnya. Ibu melihat gadis itu menangis dengan wajah ditutup dengan bantal agar tidak ketahuan bahwa ia sedang menangis. Hati ibu runtuh saat melihatnya, ibu tak kuasa menahan air matanya. Lalu ia menuju kamarnya dengan air mata bercucuran di pipi.
                Ibu menarik sebuah kotak kecil yang sedikit usang yang sudah lama tidak pernah ia buka dan dibersihkan. Ia buka kotak kecil itu perlahan, tetapi tak kuasa menahan tangis lalu ia tutup kembali kotak itu. sedikit demi sedikit ibu mencoba untuk membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah foto keluarga yaitu ibu, ayah, dan gadis kecil itu yang pada saat itu masih bayi sehingga ia digendong oleh ayahnya. Juga terdapat sebuah surat wasiat kepada ibu untuk menjaga gadis itu dan menyekolahkan setinggi mungkin. Di dalam surat wasiat itu terdapat sebuah bungkusan dari kain yang di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin berwarna biru.
                Setelah itu,  ibu membawa kotak beserta isinya ke kamar anaknya. Ia menjelaskan dengan pelan-pelan agar anaknya tabah dan sabar mendengar ceritanya. Kata demi kata ia rangkai menjelaskan kepada gadis kecil itu.
                Dengan mengelus kepala anaknya ibu berkata, “Ayahmu telah meninggal 1 tahun yang lalu. Saat itu ayah sedang mencari ikan di laut sendirian. Padahal ibu sudah melarangnya untuk tidak berlayar. Namun ayahmu nekad, sebab di rumah sudah tidak ada lauk untuk di makan. Badai besar datang, akibatnya ayahmu tenggelam di laut. Sebelum ayahmu pergi ayah meninggalkan ini untukmu nak. Sebuah kalung yang ayah beli dari hasil tangkapannya sebelum ia pergi untuk selamanya”.
                Air mata berlinang dari keduanya. Ibu memeluk gadis itu seerat mungkin. Kini hanya ada kenangan yang ditinggal ayah gadis itu. Belum sempat mata gadis itu melihat wajahnya, ayahnya sudah pergi untuk selamanya. 

No comments:

Post a Comment